BAJU BIRU PEMBERIANMU



            Kala itu aku baru saja menghela nafas, lepaskan tas dan meletakkan barang-barang bawaan ku. seminggu sekali aku pulang kerumah dari hiruk pikuk sibuk dan padatnya kuliah juga rentetan aktiftas kampus. “dek, cobain baju nya” kata bapak membuat ku menoleh. Dalam hati “ya Allah pak, baru aja sampek”.  Bapak adalah orang yang paling sayang dan perhatian buat ku. Dulu tidak, namun rasa itu memuncak sejak aku SMA dan kuliah. Diantara tiga anaknya mungkin aku yang paling disayang. Terbukti dalam hal apapun ia selalu mendahulukan ku, selalu menyisihkan sesuatu untukku pulang dan selalu berusaha memenuhi apa yang aku mau ketika bapak bisa.
            Sambil dengan rasa capek dan sedikit kesal aku mencoba baju yang dipakai bapak. Baju biru bahan kaos buatannya. Bahan itu dari sisa-sisa ia menjahit kaos olahraga Taman Kanak-Kanak di daerah ku. “udah pas kok pak, makasih ya.” Senyum sumringah dari bapak kepada ku. “Besok kalo ada sisahan lagi bapak buatin dek”. “Ia pak” sahut ku.
            Terlepas dari baju yang bapak berikan. Aku masih ingin menceritakan sosok bapak bagi ku. Rasanya yang paling membuat ingin menangis ketika dalam hal apapun adalah bapak. Ia adalah sosok hebat dirumah kami. Dulu bapak bekerja sebagai pedagang tempe, penjual krupuk keliling, distributor kayu, penjual spray (alas tempat tidur), pernah juga sebagai buruh sadap karet di PTPN VII Unit Usaha berghen, buruh bangunan, petani kebun, dan bahkan penjahit. Semua profesi dan pekerjaan ia pernah lalukan demi menghidupi dan memenuhi kebutuhan kami.
            Kini, ya… saat ini bapak sedang mencoba menyibukkan dirinya dari banyak nya waktu nganggur yang ia punya untuk kembali berkebun, menabur benih padi. Bapak itu bukan tidak mau bekerja, ia sangat risih ketika tidak ada pekerjaan dan menganggur. Sampai setiap aku ditelfon, aku pulang selalu bilang “Dek di karang ada kerjaan ndak ya buat bapak?”. “ndak tau pak, besok kalo aku tau aku bilang.” Dan sampai sekarang tidak pernah ada.
            Bapak adalah tulang punggung bagi keluarga meski ibupun selalu membantu bapak dalam hal itu. Terlebih kakak ku yang laur biasa. Bisa dibayangkan dengan kondisi bapak yang tidak tetap pekerjaanya. Sekarang pun tidak ada jahitan yang bapak harus kerjakan. Sedangkan kebutuhan hidup semakin hari semakin besar. Biaya listrik yang mencekik dan banyaknya beban yang ditanggung dalam hal ekonomi.
            Sedih…. Nangis…. Sakit…. Dan tak tega. Itu perasaan yang selalu menyelimuti saat pulang. Baju biru pemberiannya adalah baju istimewa menurutku. Karena sejak ku kecil rasanya belum pernah bapak membelikan baju buat ku. Terlebih saat hari raya. Diantara 2 suadara ku lainnya aku lebih sering menabung di celengan kecil yang selalu dibeli baju ketika lebaran. Maka meski hanya dari bahan kaos sisa seragam Tanam kanak-kanak. Kaos biru itu, begitu melekat dan menjadi special buatku.
Dear bapak…
Akan selalu reren ingat kata-kata bapak malam itu menjelang pukul 24.00 WIB “Dek harus sukses ya, bayar sakit hati bapak  yang sudah dihina tetangga, yang bilang enggak mungkin bisa meng-kuliahkan anak. Buktikan adek bisa ya”.

Kata – kata itu yang selalu menjadi motivasi dan semangat membara dalam mengerjakan tugas kuliah, belajar, menjalankan amanah dan menjaga diri untuk terus baik agar Allah mudahkan langkah-langkah kecil ku menuju sukses. 

Belum ada Komentar untuk "BAJU BIRU PEMBERIANMU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel