CINTA DALAM PERSPEKTIFKU


Adalah dia yang mampu membuat hari selalu singkat. Cinta yang kumaksud adalah bahasa rasa yang tak hanya menghujam dalam jiwa. Namun menjadi renjana yang terus menggoreskan sayup manja dan mengalir bersama nadi bahagia.

Cinta adalah ia yang terbatas waktu, karena seberapapun lamanya akan berkata “kok udah jam segini ya”. Cinta selalu menjaga dalam ruang meski bersekat-sekat. Perasaan tak nyaman saat belum berkabar. Upaya untuk terus menjadi menjadi baik, terlihat baik dan nyaris tanpa cacat dihadapannya.

Gemuruh rindu yang tak bersuara, sunyi dan hanya mampu menyayat diri sendiri karena lidahku selalu kelu untuk berucap. Apalagi saat ditinggal olehnya dalam jarak yang terlampau jauh dan dalam miliaran detik yang terlewat.

Rasa malu untuk mengawali padahal dalam hati meronta ingin dan berbisik lembut “lakukanlah” sedang akalku bertolak untuk bilang “sabar”.

Bukan sekedar hal yang mampu mengeluarkan madzi yang bersifat ringan. Bukan juga untuk berujung kebencian, apalagi marah yang tak bertemu pada kata “maaf”. Ia adalah rasa untuk saling memahami, bukan selalu minta difahami. Memberi bukan meminta. Karena hakikatnya cinta bukan pengemis hina, ia mulia yang terus membawa filogeni kebaikan lainnya setelah pekerjaan memberi tertunaikan.

Diantara cinta pasti adalah hal ketiga yang mempu menggoyahkan rasa. Bisa berawal dari wanita yang selalu ingin lebih. Menganggap dia tak peka seperti dulu. Atau jutaan rintangan yang tak pernah disadari akan datang.

Maka untuk menjadikannya agar berakar kuat sehingga tak goyah. Tak melengkung saat angin datang, juga tak tumbang saat badai menerpa. Ialah akar yang menjadi kuncinya. Seberapapun rasa cinta padanya jika tak dilandasi dengan upaya mengerti akan selalu merasa kurang.

Bahasa cinta tak melulu harus terlihat dan terucap. Bisa saja ia yang membisu dihadapanmu namun selalu melangitkan doa-doanya untukmu.

Bahasa cinta juga tak hanya desir yang sama-sama dirasa. Ia adalah kebersamaan yang lambat laun terbentuk. Diiringi ketulusan, disarami kepercayaan, dihiasi rengkuh indah perbedaan yang menyatukan. Bahasa cinta adalah ia yang rela menunggu lama meski hampir pupus.

Bahasa cinta adalah mengerti sebagaimana inginnya kedua insan menjelma namun tetap berada pada hal yang tak membuat mereka murka.

Ujian cinta bukan hal mudah untuk terlewati. Biasanya sepasang kekasih yang tertimpa ujian ini akan mudah layu, kalut dan mempersoalkan hal yang tak bersangkutan. Kadang pula bagi sebagian yang lain ujiannya berupa ruji yang mengikis habis perasaan maka tak jarang banyak orang gila karena cinta. Sekarat dan hina karena cinta. Bahkan ratusan kasus kematian adalah karena cinta.

Cinta yang semestinya suci. Karena ia pemberian Tuhan yang maha indah dapat berubah menjadi hal kotor yang menjijikkan semua yang melihatnya. Yang tepat adalah ekspresi cinta yang menghargai pemberinya. Untuk tetap menaruh kesucian itu sampai benar-benar sampai tujuan cinta kepada Tuhannya.

{H-1 Ramadhan 1440 H (05-05-2019) dalam perbaikan diri dan hati}.

Belum ada Komentar untuk "CINTA DALAM PERSPEKTIFKU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel