THE POWER OF PASSION
THE POWER OF
PASSION
Kenalkan namanya adalah passion. Ku artikan ia adalah cinta, kecintaan, kecenderungan dan
sesuatu yang tanpa disuruh tapi suka nya tingkat maksimal banget.
Sejak rabu lalu aku dijemput untuk pulang ke
kampung, karena sepulang dari sekolah tempat aku melaksanakan PPL rupanya
tubuhku meronta untuk tak lagi beraktifitas. Hampir 2 jam aku hanya dapat berbaring
lemas di kasur kamar. @Villa Bukit Tirtayasa Sukabumi. Karena ketidakberdayaan
itu aku pasrah dan menuruti semua yang diberlakukan kepadaku.
Demamku meninggi hingga 40oC
sampai-sampai membuat mataku menitihkan air matanya, ia memaksa keluar. ahh
semakin terlihat lemah aku. Malam harinya setelah demamku turun aku berbaring
di dengan keadaan yang lebih enak. Tapi ternyata tidak dengan ibu dan kakak
perempuanku yang begitu sibuk, panik, cemas, bingung tak karuan. Bagaimana
tidak? setelah demam itu menurun ia berubah menjadi sayu, putih, senyap dan
seperti tubuhku tak bernadi, biasa ibuku menyebutnya pujet jejet.
Alhasil semalaman ibu dan kakakku tak tidur hanya
menungguku, mengusapiku dengan minyak dan memijatku, disela-sela lain aku
dikompres yang tak berkesudahan. Tuhaannn maha besar kasih sayangMu, tiada
kasih terbaik, tiada cinta terbaik kecuali dari mereka. Terimakasih.
Setelah 2 hari aku drop di rumah, kakak perempuanku
itu memang tipe orang yang tidak mau diam. Apalagi waktu-waktu libur kerja,
sontak saja dapur selalu berbunyi, ternyata dia sedang sibuk membuat makanan,
sebut saja makanan itu adalah cilok.
Makanan dengan bahan baku sagu yang dibumbui taburan
sambal kacang sudah siap diatas meja. Hatiku menggerutu dan memaksanya keluar
hingga tersampaikanlah padanya. “Mba Yani mah aneh, udah tau aku sakitnya magh.
Kok malah buat makanan yang kayak gini. Ini racun buat aku. Bisanya Cuma membuatku
kepengen aja.” Sambil melirik dia bilang, “ya udah gak usah makan. Mau apa kamu?
Bolu? Kue? apa ? mau apa?” “Enggak usah, aku ndak mau apa-apa.” “yaudah kalo
gitu.” “emang kalo aku mau bolu, Mba Yani mau buatin?” “ya maulah”.
zzzzz….
Lalu aku membalasnya “Gak usah”. Dan melanjutkan
dengan pertanyaan lain. “Mba Yani itu sambal cilok kan pake kacang, kamu giling
apa blender?” “Ya digiling tanganlah” Jawabnya agak ketus, mungkin kesel
denganku. “Emang gak capek Mba?” Dia makin meninggi nadanya. “Ya capeklah
Rennnn….”. Aku seperti mau dimakan olehnya, mendengar jawaban itu. “Terus kok mau capek-capek?” Karena mungkin dia
kesellll pake banget ke aku, akhirny dia bilang “ya namanya pengen, suka, mau
capek ya gak papa yang penting terwujud.”
-Percakapan berakhir-
Sahabatku, percakapan singkatku dengan kakakku tadi
membuka fikiranku, bahwa aku sadar itulah yang disebut passion. Suka, cinta,
pengen. Mau capek, mau susah, mau ribet, mau enggak enaak prosesnya tapi kita
suka melakukannya. Maka tentu tak ada yang bisa menghalangi untuk melakukan
itu. Lebih indah lagi passion yang dimiliki oleh orang-orang hebat diluar sana.
Punya kecintaan mengambil foto, bisa gak kenal waktu, gak perduli seberapa jauh
jarak, gak ada batasan buat mengambil foto bagus, penting dan membahagiakannya.
Alhasil orang tersebut bisa jadi fotografer terkenal.
Sama halnya dengan para pembicara, motivator,
penulis, musisi, penyanyi, koki dan lain – lainnya. Mereka semua melakukan
semua pekerjaan yang menjadi profesinya rata-rata bermodal passion (cinta) pada
hal tersebut. Sehingga melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat mudah,
ringan, tanpa beban, enjoy, penuh kenikmatan dan mendatangkan manfaat serta
keuntungan financial baginya.
Semoga segera mungkin anda, aku, kita, kalian dan
semua calon orang hebat di dunia ini mampu menemukan passion terbaiknya hingga
lebih mudah menemukan jalan menuju suksesnya masing-masing.
_Minggu, 04 November 2018_10.35 AM_
Belum ada Komentar untuk "THE POWER OF PASSION"
Posting Komentar