RASA MUNAQASAH
Hari ini, Selasa 25 Juni 2019 pukul
10.00 – 12.00 WIB saya akan menisbahkan waktuku untuk menyelesaikan jenjang
akhir di masa pendidikan strata 1. Tepatnya di ruang munaqasah Pend. Biologi
UIN Raden Intan Lampung, Selama kurang lebih 3,10 bulan saya menempuh
pendidikan ada hal yang baru pertama kali saya rasakan. Rasa itu begitu
berbeda, jauh dari apa yang saya bayangkan. Semula saat keluar jadwal siding saya
biasa saja, mungkin karena faktor lingkungan. Saat itu saya sedang berada di
kampung dan rumah saya sedang riuh, ramai orang-orang yang rewang (bahasa Jawa
yang artinya membantu, sebuah kebiasaan orang-orang kampung apabila tetangganya
hendak memiliki hajat besar).
Pertama
kali jadwa keluar saya terjadwalkan untuk siding tanggal 19 Juni 2019, tepatnya
pada hari rabu. Qodarullah… Allah berkehendak lain, jadwal saya mundur 1 minggu
setelahnya karena pembimbing 1 dan 2 saya semuanya di luar kota, dengan
demikian ada perasaan lega, tenang, santai dan belum mendebarkan seperti saat
ini. Kalau kata Kak Tri (Ex-Kadiv K3PU – Salah-satu bidang UKM yang saya ikuti)
mengatakan “Ada waktu berdoa yang Allah kasih jauh lebih panjang”. Huuuuuh (aku
menarik napas lega).
Minggu,
22 Juni 2019. Aku menghabiskan waktu di rumah, sengaja saja hal itu ku lakukan
untuk melakukan persiapan munaqasah 2 hari lagi. Semakin aku belajar, rasanya
ada rasa yang semakin kuat saya hirup. Rasa itu adalah takut, deg-degkan,
khawatir dan lainnya. Bagi aku yang sering demam di malam hari, penyebab demam
kali ini beda. Demam karena mau munaqasah. Saat itu aku sadar beberapa jenis hormone
dalam tubuh saya di produksi sehingga menimbulkan rasa yang begitu aneh.
Secara
psikologis, manusia memiliki sumber-sumber kejiwaan. Pertama adalah akal, kedua
perasaan, ketiga fisik. Diantara ketiga hal tersebut akal mampu mengendalikan
semuanya. Namum posisi perasaan akan mampu mengalahkan akal saat produksinya
lebih besar, apabila hal ini terjadi akan cenderung berdampak pada fisiologi (cara
kerja ) tubuh dan fisik. Saya berikan contoh terkait hal ini : Ada seseorang
yang sedang jatuh cinta, maka produksi perasaannya akan meningkat jauh lebih
besar dari biasanya. Maka tak heran para pejuang cinta kadang-kadang melakukan
hal yang tidak rasional. Rela berkorban jauh lebih besar, mampu bertindak jauh
diluar nalar dan bahkan melakukan hal-hal yang sesuai akal sehat tidak boleh
dilakukan. Perilaku ini apabila direspon negative oleh orang lain (objek
percintaannya) maka akan berdampak negative juga pada kesehatan /keadaan fisik
orang tersebut. Misalnya orang yang patah hati akan jauh lebih sering sakit
(sakit apapun – sakit perut, sakit kepala, sakit apa saja). Dan sebaliknya saat
direspon positif akan meningkatkan hormone bahagia dalam diri seseorang
tersebut.
Hal
serupa terjadi pada saya di H-13 jam munaqasah dilaksanakan. Pukul 21.00 wib
telfon saya bordering, dengan nomor asing memanggil-manggil meminta diangkat
segera oleh ku. Tak lama aku melayangkan suara. “ Dengan mba Reren?” tanya nya.
“Iya benar, saya. Ini siapa ya? Ada apa?” “saya mau mengantarkan paket ke rumah
mba.” “Tapi saya tidak pesan paket apapun mas” “Ada yang mengantarkan untuk
alamat rumah mba, di g5 no 22 kan mba?” “Iya benar itu alamat rumah saya” “tolong
diterima ya mba, sebentar lagi saya sampai.” “Oh gitu… baik saya akan keluar
nanti”.
Belum
sampai 5 menit berlalu ada lagi telfon bordering “Mba saya sudah di depan rumah
mba, bisa tolong keluar?” “Oh iya mas” Sontak saya buru-buru memakai kaoskaki setelah
lengkap baju, androk dan jilbab saya kenakan. “Mas ini beneran ada paket buat
saya?” “Iya mba” “Boleh tau darisiapa?” “ada orang yang menyuruh saya, tapi
saya tidak tau siapa.” Aneh banget si nih orang (hati saya mengeluh). “Tolong
diterima saja ya mba” “Tapi emang masnya darimana?” “saya dari Antasari”. Siapa
juga teman saya yang tinggal di Antasari (semakin banyak saja pertanyaan diotak
saya kala itu). “Yaudah mas, tolong bilangin terimaksih ya.. buat yang mengirim”
“Iya mba”.
Buru-buru
aku membuka paket tersebut, setelah saya buka isinya adalah boneka beruang
jumbo, bulu halus dan warna coklat krem. Sama
persis dengan boneka yang ada di toko Ratmiku (depan Mall Kartini) yang
beberapa tempo lalu aku jadikan snap wa. Ya Rabb… siapa pula orang mengirimkan
ini? (gerutu hati saya). Ada tulisan di dalamnya tapi tak ada satupun nama
pengirim yang jelas mampu kudeteksi. Siapapun itu, (fikirku) terimakasih ya.
Jazakillah/ Jazakallah. Minimal si pengirim tau dan tepat, karena ada rasa
khawatir dan ragu jelang munaqasah yang terobati. Hingga malam pukul 23.20 wib
aku tertidur rasanya ketenangan semakin aku dapat sebab orangtua ku yang berada
di rumah ini (sengaja datang untuk menemani persiapan anaknya sidang) dan dapet
hadiah dari orang baik.
Kejadian
diatas adalah respon positif dari mencuatnya perasaan gelisah. Setelah hal
negative ku alami karena aku sempat demam sebelumnya. Ini adalah contoh respon
fisik saya terhadap hal negative yang aku rasakan. Apapun rasanya, bagi kamu
yang juga nanti akan merasakan sidang atau kegiatan lain yang belum pernah
dilakukan. Terus husnudzan pada Allah, perkuat hal-hal positif yang bisa kamu
lakukan, semakin dekat dan tumbuhkan lagi kecintaanmu padaNya, berharap penuh
bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat dan berusaha yang terbaik menurut
versimu ya.
Doakan aku lancar ya nanti pagi,
salam sukses dari saya.J
pukul 03.19 – 03.52 WIB, 29 Juni 2019.
Wah, suka baca tulisan ini. Dapet wawasan baru dibagian yg jelasin ttg respon positif negatif dan hormon2 itu. Wk.
BalasHapusCiye nampaknya penggemar rahasia deh. Orang baik mah akan selalu dikelilingi sama org baik insyaAllah.
Semoga Allah mudahkan sidangnya. Ditunggu deskripsi rasa pasca sidangnya.