40 HARI UNTUK MENAUTKAN HATI


Sabtu, 15 Juli 2018. Pukul 12.48 WIB aku sudah tiba di Ma’had kampus, titik kumpul keberangkatan mahasiswa KKN di hari kedua. Kampus kami yang bernama UIN Raden Intan Lampung, tiap tahunnya mengadakan program KKN ke daerah-daerah sebagai salah satu bentuk kegiatan wajib mahasiswa di antaranya : pengajaran, pengabdian, dan penelitian. Hampir setengah jam aku belum juga mendapati teman satu kelompok datang, dan sembari menunggu mobil bus yang akan menjemput kami, seketika ku ambil handphone untuk bertanya keberadaan mereka di grup dan dilanjutkan membuka Al-Quran kecil untuk tilawah. Dua puluh ayat aku baca, akhirnya ada juga temanku yang datang, namanya Aliyah. Tidak lama kemudian disusul oleh rekan kami yang lain Sofi, Galih, Robi, dan ketua kelompok.  
Sesuai jadwal keberangkatan, kami akan berangkat pukul 14.00 WIB. Tepat sekitar pukul dua itu semua personil kelompok kami lengkap. Kami adakan foto bersama DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) beliau adalah Pak Fatih Sekretaris salah satu jurusan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Setelah selesai, kami mendapat info bahwa mobil bus yang akan membawa kami belum lama berangkat kembali ke Bandar Lampung setelah mengantar mahasiswa KKN di kecamatan Palas, Kalianda. Dengan demikian berarti kami harus menunggu lama, karena perjalanan dari Palas ke Bandar Lampung lebih dari 1 jam. Kebosanan itu turut hadir pada semua mahasiswa yang akan berangkat KKN, termasuk aku. Membawa 1 koper besar beroda berisi pakaian yang sudah rapi terususun, 1 tas besar persegi panjang biasa dipakai orang merantau berisi kerudung dan pakaian kecil, 1 tas ransel berukuran besar berisi laptop dan 2 buah novel, 1 buah tas jinjing plastik berisi sandal dan hanger, dan 1 buah bantal terlipat, barang bawaan yang begitu banyak. Kini udah sekitar 2 jam menunggu mobil bus tak jua datang. Penat~
Tak terasa waktu ashar datang, bersegera kami untuk sholat. Setelah sholat sembari menunggu mobil bus akhirnya penat dan bosan sedikit terobati, karena ada beberapa teman mahasiswa dari satu organisasi datang untuk mengantar kami. Itulah kebiasaan yang sering kami lakukan. Saat kakak atau adik tingkat berangkat KKN berusaha menemani, mengantar dan mengucapkan selamat jalan. Hari itu Mba Lara dan Mba Aulia menemani sampai aku benar-benar masuk ke dalam bus untuk berangkat pukul 17.09 WIB. Sudah hampir 4 jam sejak pukul 12.48 saya tiba di tempat itu. Akhirnya mobil melaju. “Dadaaaa…… fiiamanillah ya dik” teriak mba Lara.
Di kursi nomor 2 dari depan aku duduk. Kami kelompok KKN 23 yang terdiri dari 12 orang ditempatkan di Desa Margo Lestari kecamatan Jati Agung. Desa yang jaraknya tidak perlu sehari semalam untuk sampai dari Kota Bandar Lampung, bahkan dengan hanya waktu kurang lebih 50 menit perjalanan ke desa KKN telah sampai. Bukan pelosok, bukan juga jenis kota. Desa KKN kami, Desa yang asri, masih berkembang, warganya yang luar biasa merakyat, penuh keberagaman serta banyak keunikan, kekayaan alam dan bentuk pencaharian sebagai petani yang beragam. Pemandangan kami saat sampai di desa KKN adalah hijaunya sayuran yang ditanam dipinggiran rumah atau di kebun-kebun warga. Desa ini menjadi saksi sejarah bagi kami sebagai prasyarat untuk menyelesaikan pendidikan distrata 1.
Sesampainya di desa KKN selepas magrib, beberapa diantara kami sibuk menurunkan barang, yang lain menyalami warga dan setelahnya kami berbondong untuk sholat magrib. Makan malam bersama pemilik posko adalah acara pertama kami. Betapa nikmatnya kebersamaan KKN. Malam harinya dengan tidak peduli capek kami bersilaturahmi ke rumah kepala dusun dan beberapa tetangga posko. Minggu pertama di desan KKN, kami habiskan untuk melakukan silaturahmi. Mengenal dan memahami warga sampai menyesuaikan program kerja yang sebelumnya kami rancang. Di waktu awal inilah waktu-waktu kami untuk memahami karakter satu kelompok, karena kami sebelumnya tidak saling mengenal, tidak pernah bertemu meski satu kampus apalagi bekerjasama. Maka tentu waktu seminggu tidaklah cukup. Pengenalan dan keakraban kami tercipta dengan sendirinya sembari berjalannya waktu dan satu-persatu program kerja kelompok mulai berjalan.
Awal pekan ini kami dan kelompok 22 dari dusun I berniat silaturahmi ke SD yang berada tepat di depan posko kami. Salah satu program kerja kami di sekolah adalah membantu kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan pemberdayaan perpustakaan sekolah. Kegiatan tersebut bersama-sama kami jalankan dengan baik. Suatu program kerja akan baik apabila direncanakan, dijalankan, dan dievalusi dengan baik. Setiap hari menjelang istrahat malam kami selalu mengevaluasi kegiatan. Kebetulan kami tinggal di tempat ibu ketua pkk dusun, yangmana posko kami (rumah beliau) adalah pusat kegiatan latihan penampilan HUT RI ke 73. Penampilan dipuncak acara antara lain : paduan suara, tari daerah, senam kreasi, dan puisi. Maka setiap ba’da magrib sampai pukul 11 malam, posko kami tidak pernah sepi dikunjungi orang-orang dengan berbagai kepentingan. Ada yang ingin latihan, sekedar melihat saja atau bersilaturahmi.
Mahasiswa KKN dintuntut serba bisa dan menjadi tonggak membantu masyarakat, serta ikut berperan dalam segela bentuk kegiatan kemasyarakatan. Termasuk berbagai persiapan acara HUT RI, menjadi tanggung jawab kami untuk melatih seapik mungkin tampilan, dan rangkaian agenda di dalamnya. Hari Jumat, kami mengadakan rapat dengan para pemuda di dusun setempat. Dengan membagi pekerjaan dan tugas kami melaksanakan rapat tersebut. Namun sayangnya, aku yang menjabat sebagai sekretaris kelompok sakit. Sudah 3 malam ini keadaan tubuhku tidak bisa diajak kompromi. Siang hari aku merasa kedinginan, bahkan disiang bolong aku harus segera memakai selimut dan berada di dalam kamar. Jika sore datang badanku panas, demam, sehingga nafsu makan menurun bahkan hampir tiap hari aku hanya minum susu.
Disela-sela sakit dengan upaya terbaik, aku masih berusaha mengisi kegiatan bimbel di rumah, mengajar ngaji di TPA sore hari, berjalan jauh untuk ikut sholat subuh di masjid yang berada di ujung dusun, menjadi MC di acara pengajian Ibu-Ibu dusun sampai menyiapkan lomba da’i di FKIP UNILA. Hari minggu, lomba itu diadakan. Dengan keadaan yang belum sembuh total, memaksakan diri untuk berangkat ke Bandar Lampung mengikuti lomba, dengan membonceng rekan saya yang bernama Putri. Motor Jupiter warna biru kami pinjam dari anggota kelompok, pagi sekali kami berangkat.
Putri adalah mahasiswi jurusan matematika yang baru saja seminar proposal (semprop) sebelum kami berangkat KKN. Tujuannya ke Bandar Lampung adalah mengambil surut menyurat setelah sempropnya itu. Tubuhnya jauh lebih besar dari aku, berat badannya juga mungkin 2x lipat dibandingkanku. Karena memang ia belum bisa mengendarai motor bergigi sehingga aku yang mengendarainya. Susah payah, naik turun motor, dan beberapa kali bertanya ke warga karena takut salah jalan menuju Bandar Lampung. Sewaktu berangkat ke desa KKN kami tidak melewati jalan ini, sehingga terbata-bata. mengeja jalan dan pada akhirnya pukul 09.00 WIB kami sampai di UNILA.
Perlombaan dimulai, aku kelelahan dan bergegas ambil minum. Tak lama temanku Putri berpamitan, ia segera dijemput oleh ayahnya. Rencana kami besok senin akan kembali ke posko, setelah Putri selesai mengurus berkas di kampus dan saya menyelesaikan lomba. Ia pulang. Aku melanjutkan ke ruangan untuk mengikuti pembukaan acara yang sebentar lagi berakhir. Sebelumnya aku melakukan registrasi ulang. “Reren Selawati nomor urut 37” kata panitia. Nomor urut itu adalah nomor urut ke 3 dari belakang. Artinya aku harus menunggu sampai 36 orang hingga giliranku lomba. Waktu yang panjang. Aku duduk di aula tempat lomba berlangsung. Satu-persatu peserta lomba menujukkan tampilannya. Betapa luar biasa lomba ini diadakan oleh Fakultas terbaik di UNILA menjadi ajang tahunan dan tak pernah sepi peminat.
Tak terasa, sudah hampir masuk waktu sholat dzuhur dan baru nomor urut ke 19. Artinya separuh lagi aku harus menunggu giliranku. Badanku demam, tubuhku lemas, tiba-tiba mulutku pahit, persediaan minum yang aku bawa hampir tak aku minum karena memang sangat pahit lidahku saat itu. Bergegas sebelum waktu isoma diumumkan aku meninggalkan tempat dan bersiap sholat dzuhur di musholah FKIP UNILA. Seperti biasa aku wudhu dan sholat. Setelah selesai sholat aku kembali merapihkan pakaian, memakai kaos kaki, manset, dan bersiap ke ruangan. Belum selesai aku memakai kaos kaki, baru tersadar ternyata seluruh kaki dan tanganku muncul bercak warna merah. Demamku semakin tinggi, jantungku detaknya lebih kencang karena merasa khawatir. Sebab aku sendirian, tidak bersama teman satu organisasi, teman KKN atau siapapun di tempat lomba ini. Akhirnya aku memutuskan istrahat sejenak di musholah.
Perkiraanku sekarang lomba berada dinomor urut ke 30, aku menghitung waktu di jam tangan. Mungkin sebentar lagi aku tampil. Aku segera memberi kabar kakakku “Mba, aku belum tampil. Kurang 7 orang lagi dan sepertinya aku sakit badanku merah semua”. Pengaturan data seluler handphone aku matikan tanpa menunggu balasan dari kakakku. Setiba di ruangan, tepat sesuai prediksi, aku menunggu giliran tampil. Demamku makin tinggi, badanku semakin lemas, ku baca Al-Qur’an untuk menangkan. Tepat urutan ke 35, aku membuka handphone mengabari kakak tingkatku yang menghantar aku berangkat KKN “Mba Lara, Reren lagi lomba dai di UNILA. Minta doanya ya Mba. Tapi sekarang saya sedang sakit. Semoga Allah kuatkan saya”. Send.
Beberapa panggilan tak terjawab muncul, Mba Yani (kakak saya). “Dek enggak usah lomba kalau sakit” Singkat pesannya. Aku tutup kembali handphone. Nomor ke 36, dan sebentar lagi giliranku. Aku bersiap. Tepat saat aku tampil, perasaanku aneh, tubuhku gemetar dan lemas, demamku sangat tinggi “Assalamualaikum warohmatullah wabarakatuh” sampai selesai aku sampaikan materi yang sudah kusiapkan. Akhirnya selesai. Tapi tubuhku semakin lemas, pelan-pelan aku menuruni tangga menuju parkiran motor dan berniat pulang ke kosan. Kulihat pergelangan tanganku ternyata merahnya semakin banyak dan besar. Tak lama ada Mba Lara dan Titin (Adik tingkat) datang. Aku ditelfon oleh mba Yani mengabari bahwa sebentar lagi sampai di UNILA. Sontak aku kaget dan kurang dari 15 menit bapak dan kakakku tiba di tempat lomba. Mereka khawatir dengan keadaanku, akhirnya kami ke klinik. Dokter mengatakan saya terkena DBD dan harus dirujuk ke rumah sakit. Belum sampai dokter selesai memeriksa saya sudah tak sadarkan diri, tubuh lemas tak berdaya dan hanya bisa berbaring. Keadaan ini berlangsung sampai pukul 19.00 WIB aku berada di IGD Rumah Sakit Urip Sumoharjo.
Sakit yang kurasa biasa saja sejak beberapa hari lalu, ternyata ini serius. Membuatku harus dirawat 3 hari 3 malam di RS. Sakit adalah bentuk kasih sayang Allah pada hambanya. Karena setiap yang sakit akan Allah gugurkan dosa-dosanya. Mungkin sebab aku terlalu banyak dosa. Aku berfikir panjang bahwa nikmat sehat itu luar biasa. Juga nikmat memiliki orangtua yang kasih sayangnya tiada terbalas. Untung saja Bapak dan Kakakku segera menyusul dan membawaku hingga sekarang sakitku tertangani. Ini adalah kenikmatan dari Allah yang tiada bandingannya. Satu persatu teman, saudara, keluarga dan rekan organisasi menjenguk keadaanku. Tak terbayang sedikitpun olehku padahal pagi hari aku masih kuat membawa motor puluhan KM, malam harinya hanya bisa memperoleh nutrisi dari selang infus. Betapa mudahnya Allah mengambil sesuatu yang dititipkan pada diri kita. Beberapa hal yang menjadi beban pikiranku salah satunya adalah keadaan desa KKN. Bahwa status saya adalah mahasiswa KKN yang sedang mengabdi di desa, sekarang harus berbaring di rumah sakit.
Motivasi dan keinginanku untuk segera kembali ke desa KKN begitu kuat, itulah yang membuatku segera pulih dan kembali sehat. Pada akhirnya Allah izinkan saya untuk kembali ke Desa KKN dan berkreasi lagi disana. HUT RI semakin dekat, banyak persiapan yang dilakukan, rapat lebih rutin, latihan lebih serius dan beberapa acara perlombaan dilaksanakan menjelang puncak acara. Aku bertugas sebagai pembawa acara dipuncak kegiatan. Alhamdulillah berkat kerjasama tim yang baik HUT RI tahun ini di desa KKN kami berlangsung begitu meriah dan khidmat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. KKN kami berakhir tepat 40 hari. Momen hari kemerdekaan, Lebaran Idul Adha adalah waktu spesial yang juga kami habiskan di desa KKN.
Betapa nikmat dan bahagianya kebersamaan, keseruan dan keberagaman KKN. Meski diawal kami tak saling mengenal namun pada akhirnya kita bergandengan tangan menyelesaikan amanah KKN sampai waktu yang ditentukan. Bagiku KKN bukan hanya cerita pindah makan dan tidur, lebih dalam dari itu. Dengan KKN kita menjadi pribadi yang lebih peka, peduli, belajar bermasyarakat yang sebenar-benarnya, jauh dari keluarga dan belajar menyelesaikan banyak masalah yang menerpa. Jika dibandingkan dengan hanya berada di kampus, berada di desa KKN memiliki presentase besar menyumbang pengalaman berharga selama kuliah.

Terlebih bagi pribadi ini yang harus sakit beberapa hari. Semata-mata aku ikhlas, niat lomba adalah untuk mewakili salah satu organisasi di Kampus yang aku ikuti. Meski sendiri, dan berujung tak sadarkan diri namun aku bahagia mampu menyumbangkan sekali lagi prestasi untuk organisasi yang terakhir kali. Dengan ini waktu 40 hari KKN membuat saya jauh lebih dekat dengan Allah. Kedekatan itu hadir dari kerendahan dan kesadaran bahwa kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa tanpaNya. Terbukti semua hal terlewati berkat terus menautkan hati kepada ilahi Rabbi.

Belum ada Komentar untuk "40 HARI UNTUK MENAUTKAN HATI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel