AWAN
Lalu kau fikir aku
jatuh padamu?
Ambilah kain tebal dan
tutup indahmu.
Karena aku hanyalah
berupaya. Berupaya menghapus luka yang mengangga darinya.
Bukan berarti aku mau
jatuh kembali ditempat yang tidak membuatku hidup.
Sudah. Cukup. Aku
merasakan “Dejavu” itu. Nikmat namun
sakit.
Sudahlah. Jangan layani
alur ini.
Akhiri. Benar akhiri
saja yang seharusnya berakhir.
Aku juga tak ingin,
Tak ingin engkau hangus
karena api semangat ku yang kadang tertiup angin dan menyambar hal lain yang
tak layak terbakar.
Maafkan aku wahai takdir.
Aku tak cukup pandai
membawa lembarannya untuk sampai di dahan terakhir.
Namun sungguh, aku tetap
menantimu.
Aku justru sangat
mengharapmu.
Meski kita sama-sama
tak tau, siapakah yang lebih dahulu datang
Takdir bahagia ku
bersamamu atau takdir menjemput ku pada Nya.
Duhai takdirku,
ingatkan aku bahwa ini adalah fatamorgana. Semakin kudekati semuanya semakin
hilang.
Keindahan selama ini
adalah kebohongan yang nampak.
Tapi,,,, aku terlalu
bodoh. Hingga kadang kegilaan ini membuatku buta. Tak mampu memilah mu bahkan sulit
menempatkan mu di ranjang kebahagiaan kita.
Kamis, 180118.
Belum ada Komentar untuk "AWAN"
Posting Komentar