KISAHKU DALAM DAKWAH
KISAHKU DALAM
DAKWAH
Dear dairy,
“Hari ini pertama kalinya aku
menerima raport di SMA, rasanya seneng banget karena aku mendapat peringkat
pertama, sekaligus juara umum disekolah.
Betapa bersyukurnya aku, Allah telah
mengabulkan doa dan semua usahaku.
Alhamdulilah… Tidak hanya itu tapi aku diberi dukungan untuk maju
mencalonkan diri menjadi kandidat ketua OSIS tahun 2013/2014.
Entahlah… aku bingung dengan hal
ini, selalu aku berfikir bila akku menjadi seorang ketua OSIS mungkin aku akan
mempunyai wewenang lebih besar dalam memperbaiki akhlaq teman-teman,dan bias
belajar menjadi leader buat diri dan teman-teman.
Hmmmm…. Baiklah mungkin aku memang
harus mencoba.”
Tak terasa
jam sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Aku tidak merasa bosan karena sudah menjadi
kebiasaanku sebelum tidur untuk menulis, menulis apapun itu, yang tentu
banyak hal tentang hari-hariku juga motivasi agar selalu semangat dalam
menggapai mimpi.
Malam
semakin sunyi ditambah dengan padamnya cahaya lampu malam memaksaku untuk menutup
buku dan melanjutkan dengan membaca do’a tidur, surat Al-Ikhlas sebelum aku tidur.
Setelah itu aku segera menutup mata untuk mempersiapkan diri menyambut hari
esok.
“Alhamdulillahiladzi Ahyana Ba’dama
Amatanawailaihinnusur…..”
Doa bangun
tidur yang setiap hari dikumandangkan seorang jamaah masjid dekat rumahku bak jam beker yang tak perlu
diatur untuk membangunkan ku dari tidur pulas ini. Akupun segera bergegas dari tempat
tidur dan meneruskan minum air putih, lalu sholat subuh, mencuci piring, memotong sayuran,
membersihkan rumah, mandi pagi dan sarapan adalah ritual ku dipagi hari. Sejak SMP aku
mempunyai kebiasaan baru untuk bersedekah sebelum melakukan aktifitas yaitu
sholat dhuha.
Hari ini
aku dan teman-teman harus menghadapi ulangan harian mata pelajaran favoritku
yaitu “Biologi”. Dan betapa terkejutnya aku ketika sampai di sekolah dengan
pemandangan yang tak sedap. Bukan karena ada hal-hal yang jorok disana
melainkan teman-temanku asyik mempersiapkan contekan untuk ulangan nanti.
“Assalamualaikum…” Ucapku dengan keras.
“Kok kalian nyontek sih?” tanyaku heran.
“Re, kamu sih enak pinter nah kalo
aku dan yang lain? Kalo kami enggak nyontek nanti nilai kami pasti jelek.” Jawab Dimas ketus melihat kepadaku.
“Maaf ya… bukannya aku sok, tapi aku
enggak suka kalo kalian mencontek.”
“Memang kenapa?” Sangkal Dimas.
“Ya kan kita sudah besar, sudah tau
mencontek itu tidak baik dan itu hukumnya haram, kalo kita melanggar maka kita
berdosa. Kalian mau dapet dosa?” Aku mencoba membela diri.
“Sudahlah Re… kamu kalau mau ceramah jangan disini tapi di
masjid acara tabilgh akhbar aja…” Sahut Reno.
“Ha..ha..ha..ha..” Semua teman-teman ku di kelas menertawakan ku tanpa ada beban
dan keraguan sekalipun.
***
Dua Bulan mendatang….
Aku adalah
cewek yang disibukkan dengan berbagai aktifitas, mulai dari sekolah, membantu
orang tua, mengajar ngaji dan privat, kegiatan RISMA, latihan public speaking
dan yang lainnya.
Entah
mengapa aku yang biasanya tak pernah membuka social media facebook, malam itu
aku membukanya. Dan betapa terkejutnya aku saat ku lihat sebuah grup yang berisi adalah olok-olokan dari
teman-temanku yang tertuju padaku karena aku selalu mengingat mereka untuk
tidak mencontek.
“Ya robbi… apa yang harus aku lakukan, kau hanya ingin teman-temanku
tidak mencontek, namun mengapa begini? Apakah aku
salah bila mengingatkan mereka? Bukankah tugas manusia adalah saling menasehati
dalam kebaikan? Ya Allah berikan petunjuk MU.”
Rintihan do’a ku di dalam kamar kecil sambil menangis.
***
Enam bulan kemudian…….
Hampir
setiap pembagian raport, baik Mid Semester atau Semester. Aku selalu mengamati
teman-temanku yang masuk dalam sepuluh besar.
Aku terheran ketika perubahan yang terjadi cukup aneh, salah
seorang temanku yang tidak pernah absen dalam tes remidi justru mendapatkan urutan ke-3 dalam peringkat
di kelas.
Dalam
hati kecilku berkata, “Inikah hasil
perbuatan mencontek?”. Berbagai cara aku lakukan untuk mengingatkan, memberi
motivasi dan menggambarkan keburukan mencontek. Hal itu aku lakukan bukan
lantaran aku tidak suka pada keberhasilan teman-temanku meliankan aku tidak mau teman-temanku
melakukan hal buruk.
Aku tak
pandai dalam menyembunyikan ekspresi ku. Semua teman-teman sekelas menfitnah ku, karena aku tidak suka pada
keberhasilan temanku yang mendapat juara ke-3.
Setiap hari aku selalu mendapat cemoohan , sindiran dan
kata-kata yang menyakitkan. Sungguh aku benar-benar bingung dengan semua ini.
Aku sudah berusaha kuat dan bertanya pada orang-orang terdekat dan guru-guruku
bahkan kepada orang tuaku.
Semua
memberiku motivasi dan semangat. Namun sungguh amanah yang cukup berat bagiku untuk
membuat teman-temanku berhenti membohongi diri mereka sendiri. Dan itu berarti
aku belum berjasil menjadi pemimpin buat teman-temanku di kelas.
***
Beberapa minggu mendatang, aku jatuh
sakit, kondisi tubuh
ku tidak menentu
dan dokter menvonisku bahwa aku terserang
penyakit kangker tulang. Informasi itu menjadikan ku semakin
terpukul dan menurunkan daya tahan tubuhku.
Berhari-hari aku tidak masuk sekolah.
Saat itu ketika aku sedang sakit dirumah, Tuhan memberiku wahyu, aku
tersadar betapa pentingnya aku bagi teman-teman, tersirat bagaimana keadaaan di kelas tanpa aku yang melarang mereka
untuk mencontek, sedangkan kehadiranku saja seperti tidak berdampak banyak.
Aku berkata dalam hati “Jika
aku terus-terusan sakit lalu siapa yang akan mengingatkan teman-teman di kelas….? Apakah mereka tetap dalam keadaan mencontek atau sudah
Allah buka-kan pintu hidayah?” Pernyataan itulah yang membuatku
bangkit dan memaksakan diri untuk kembali ke sekolah meski masih dalam keadaan
sakit.
***
Senin,
adalah hari pertamaku kembali menuntut ilmu di sekolah. Tubuhku yang kecil
semakin hari semkin terlihat kurus dan keadaan semakin memburuk.
Bel,, istirahat berbunyi, aku dipanggil oleh pihak sekolah
untuk menemui guru wakil kesiswaan, karena ulah teman-temanku
menfitnahku dan keadaanku yang sedang sakit. Sehingga aku tidak bisa mendapat juara umum kembali, jangankan
juara umum bahkan juara kelas pun tidak aku dapatkan.
Kemudian guru wakil kesiswaan mengatakan padaku bahwa kesempatan untuk mendapatkan
beasisiwa ke luar negeri hilang sudah.
Aku
menanggis dan berlari ke kamar mandi setelah usai menemui guruku di kantor.
Bagiku semua adalah cobaan yang Allah berikan kepadaku, karena aku yakin ada
tujuan terbaik dari Allah. Dia akan meningkatkan derajat ku.
***
Jumat , tepat pukul 11.30 WIB aku mengikuti bimbingan Kerohanian Islam
(ROHIS) di sekolah. Saat itu aku mempunyai waktu untuk menanyakan semua yang
ada dihatiku dan yang sedang aku alami. Setelah selesai aku bercerita dan
pembina ROHIS memberikan banyak motivasi juga saran kepadaku.
Dari jawaban
Pembina ROHIS aku tersadar bahwa berdakwah, mengingatkan orang lain,
nasehat-menasehati
dan saling tolong menolong memang wajib kita lakukan sebagai umat muslim,. Bila kita
sudah melakukan tugas itu maka gugurlah kewajiban kita sebagai umat muslim untuk
saling mengigatkan. Tapi
selebihnya kita serahkan semuanya kepada Allah, agar Allah mengetuk hati
orang-orang yang telah kita ingatkan untuk kembali pada jalan yang benar.
Hari demi
hari aku jalani, saat dimana aku sudah tidak bisa lagi seperti dulu, hanya di dalam suasana rumah dan
kamar tempatku beraktivitas, aku menjalani hari dengan sebaik-baiknya,
menjalankan kewajiban sebagai manusia seperti sholat dan lainnya meski dalam keadaan berbaring
lemah.
Aku
berharap, suatu hari disaat aku harus menutup mata, dan membawa sebuah
keyakinan bahwa semua perjuanganku dan segala yang aku lakukan didunia,
tidaklah sia-sia. Hingga akan menuai hasil dimana Allah yang Maha Kuasa yang akan membalasnya.
Perkenalkan namaku Reren Selawati, aku lahir di desa
tercinta yaitu Kertosari, pada 25 oktober 1996. Saat ini aku akan masuk di
perguruan tinggi. Karena tepat pada tahun ini aku telah lulus dari sekolah
swasta yang tak jauh dari rumah ku. Aku tinggal di Kecamatan Tanjungsari
Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Aktifitas ku setiap hari selain
menuntut ilmu dan membantu orang tua aku juga berdakwah. Aku tergabung dalam
lembaga dakwah yaitu nada dan dakwah El-Izza Lampung. Selain itu aku aktif pada
Lembaga Pendidikan Al-Quran (TPA) sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Atas
(SMP). Aku menulis cerpen ini sudah lama. Saat aku tahu bahwa ada lomba cerpen
dari “Oase Pustaka” pada hari Sabtu, 20 Juni 2015. Kemudian aku bergegas
untuk membuka cerpen ku lalu menulisnya di komputer dan mengirimkan naskah ini.
Semoga naskah yang aku kirim dapat masuk kedalam urutan atas. Aamiin.... Terimaksih.
Nama facebook :
Reren Selawati
Nomor HP :
08993611216 / 089631293180
Belum ada Komentar untuk "KISAHKU DALAM DAKWAH"
Posting Komentar